PRAYER CLUB

Your name is in our prayer list! Butuh dukungan doa email ke: mozart.pardede@yahoo.com

 
Roma 8:26
Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Efesus 3:16
Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
Filipi 4:6
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Yakobus 5:16
Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
1 Yohanes 5:14
Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
Menanti jawaban doa
Selasa, 27 November 2007
Doa merupakan komunikasi dengan Tuhan. Tidak jarang , ketika berdoa, manusia menggunakan untuk memuji Tuhan, mengucap syukur, berbagi masalah dan, meminta sesuatu. Meminta pada Tuhan adalah hal biasa, karena Beliau adalah Bapa kita (Lukas 6:36; Matius 6:6; Yesaya 63:16; dan Roma 8:15). Harus diakui, Tuhan selalu mendengar doa kita, bahkan Ia tahu sebelum kita meminta (Mazmur 139:4: Yesaya 65:24). Permintaan harus diajukan dan tidak berarti bila tidak ada jawaban (Matius 7:7-11). Kenyataannya Tuhan selalu menjawab doa-doa kita (Mazmur 86:7). Ada tiga jawaban doa yang diajarkan oleh guru sekolah minggu penulis, yaitu ya, tidak, dan tunggu.

Jawaban ya untuk permohonan doa yang kita ajukan, adalah yang paling menyenangkan. Doa itu jelas memiliki arti dikabulkan. Jawaban tidak, adalah disebabkan karena permohonan doa itu bila dikabulkan, justru membahayakan fisik dan rohani kita (Mazmur 66:18 dan Yakobus 4:3). Jawaban doa yang lain lagi, adalah tunggu dulu. Tunggu dulu, kata ini mencemaskan kita. Tunggu dulu bisa memiliki arti sedikitnya dua hal. Hal pertama adalah permohonan doa tadi akan menjadi ya. Kedua, tentu saja permohonan doa tadi ditolak. Mengapa mencemaskan arti kata tunggu? Kata tunggu mengarah khusus pada waktu yang tidak tentu. Waktu ini dapat berarti sebentar dan lama. Resiko bagi manusia adalah mungkin saja, karena penantian ini ada peluang-peluang yang dilewatkannya. Jawaban doa dari tunggu yang akhirnya menjadi ya, mungkin akan mengurangi kekecewaan kita, karena melewati peluang-peluang tadi. Tapi coba bayangkan, bila peluang-peluang yang kita lewatkan tadi memiliki nuansa yang bagus, namun kita lewatkan, sedangkan akhir jawaban doa kita adalah NO! OOOOOOOh, BETAPA MENGECEWAKAN!!! Kita mungkin akan juueengkel sekali sama Tuhan, kenapa jawaban doa yang mengarah penolakan, tidak lebih cepat diberikan? Khan, kita dapat meraih peluang tadi.

Orang tua kita di dunia, ingin menuruti permintaan dari anak-anaknya. Secara realitas, orang tua melihat kelayakan pemintaan anaknya. Anaknya yang berusia 3 tahun tidak akan dikabulkan, bila ia meminta sepeda motor. Permintaan anak itu juga akan ditolak dengan cepat, bila ia minta permen di kala sedang batuk dan pilek. Permintaan permen akan dikabulkan, bila ia telah sehat. Permintaan lain juga akan ditolak, bila kedua anaknya secara bersamaan meminta uang 200 juta rupiah. Ayah atau ibu dalam menyatakan kata “tunggu dulu” dan tenggang waktu keputusannya akan lebih lama. Pengabulan permintaan uang 200 juta rupiah, mungkin akan ditinjau kelayakan dan kepantasannya.
Demikian juga doa-doa permohonan yang kita ajukan pada Bapa di surga. Bapa akan melihat lebih dalam lagi, karena Ia mampu memisahkan jiwa dan roh manusia (Mazmur 44:22 dan Ibrani 4:12). Permintaan yang kita ajukan pada Bapa memiliki dimensi yang lebih luas lagi. Perubahan dari “tunggu dulu untuk permohonanmu” ke “permohonanmu dikabulkan” atau “permohonanmu ditolak” betul-betul butuh waktu yang relatif. Perpindahan jawaban tadi relatif panjang dan relatif pendek, karena menurut waktu Tuhan (Yesaya 49:8; Yesaya 60:22 dan Ibrani 4:16). Perpindahan jawaban bagi manusia bisa jadi suatu bentuk ujian. Ujian untuk hal yang berkaitan dengan kesabaran, ujian iman, dan ujian ketaatan. Ketiganya sangat berkaitan dengan waktu. Ujian ini masih ditambah lebih berat lagi, komunikasi kita dengan Tuhan tidak seperti komunikasi kita dengan orang tua kita. Kita dapat berpura-pura baik di depan orang tua kita agar permintaan kita dikabulkan. Seperti tertulis di kitab Mazmur (94:11), Tuhan yang tidak terlihat, yang mengetahui isi hati, tujuan, dan motivasi kita meminta; berbeda dengan orang tua kita, yang mungkin masih bisa kita “tipu”.
Ujian kesabaran, iman dan ketaatan menjadi satu paket dalam penantian jawaban doa kita. Seseorang yang di bawah tekanan masalah dapat dengan mudah terjatuh dari salah satu tiga hal di atas. Atau, dengan tekanan waktu, orang itu akan kelihatan emosi sesungguhnya. Kejatuhan salah satu hal dapat menyebabkan kejatuhan pada bidang lainnya.

Variasinya dapat seperti berikut ini, orang yang tidak sabar, cenderung tidak percaya pada Tuhan dalam mengambil keputusan, selanjutnya ia akan menjadi tidak taat. Kejadian Saul ketika berperang terhadap orang Filistin, menggambarkan kejadian tersebut (I Samuel 13:9-14). Jawaban dari Tuhan adalah penantian bagi kita. Tugas kita adalah menanti dengan sabar terhadap apa pengabulan doa kita (I Yohanes 5:14). Permohonan doa kita yang harus cepat segera dijawab oleh Tuhan, tidak ubahnya memperhamba Tuhan (Yesaya 29:16). Tuhan memiliki hak jawab atas doa-doa permohonan kita dalam bentuk waktu.

Kekecewaan-kekecewaan saat penantian jawaban atas permohonan-permohonan doa kita bisa disebabkan, karena kita adalah manusia. Manusia dalam bentuk daging. Jawaban-jawaban doa kita, dapat dijawab dengan Tuhan dalam sekejap mata. Persis, layaknya bila kita meminta sesuatu pada orang tua kita, jawaban dapat langsung diberikan. Kedagingan kita tidak merasakan jawaban doa itu, karena ada unsur-unsur yang menghalangi jawaban doa tadi. Jawaban doa sedang disampaikan pada kita, namun pembawa jawab doa itu dihadang oleh sesuatu. Peristiwa ini tertulis di Kitab Daniel atas jawaban doa-nya.

Jawaban doa adalah ibarat, seorang anak yang telah usai sekolah dan menunggu jemputan orang tua-nya. Anak ini mungkin bertanya-tanya, mengapa saya tidak segera dijemput? Apakah ayah lupa, saya harus dijemput jam sekian? Ataukah, ia sedang berjuang mengatasi padatnya lalu lintas untuk menuju kemari. Ilustrasi ini hanyalah menceritakan keterbatasn manusia saja, Tuhan kita lebih dari sekedar manusia. Tuhan melihat kita setiap saat, Ia memberikan jawaban doa tepat pada waktu kita membutuhkannya. Terpujilah Tuhan.
posted by Ev.. MOZART PARDEDE @ 19.48   0 comments
About Me

Name: Ev.. MOZART PARDEDE
Home: Jakarta Utara, DKI Jakarta, Indonesia
About Me: 100 % Hamba Tuhan & 100 % Businessman
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links
Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

© 2005 PRAYER CLUB Template by Isnaini Dot Com